Bayang-bayang Masa Lalu di Balik Jas Baru Sang Mantan Hakim

By Admin


Anwar Usman Saat Pelantikan Wantimpres Di Istana/ Dok. Setpres

nusakini.com, Penunjukan seorang mantan Ketua Mahkamah Konstitusi ke dalam lingkar penasihat istana pekan ini kembali membangkitkan ingatan publik tentang krisis etika. Media sosial mendadak riuh oleh curahan hati masyarakat yang mengeluhkan menurunnya standar moral dalam pemilihan pejabat pemerintahan belakangan ini.

Warga di ruang digital tak segan melontarkan kritik satire dengan menghidupkan kembali frasa paman usman dalam berbagai unggahan mereka. Sebagian besar merasa cemas melihat bayang-bayang dinasti politik yang dinilai masih kuat mencengkeram struktur pemerintahan di masa transisi ini.

Di tengah derasnya arus keraguan tersebut, sang tokoh mencoba meredam spekulasi dengan menyatakan sumpah atas tugas barunya. "Saya sesuai amanat konstitusi, Pasal 16 UUD 1945, itu saja tugas kepada saya," katanya mencoba memberikan jaminan ketenangan kepada publik.

Ia amat menyadari pandangan skeptis masyarakat terkait potensi pengaruh kekuasaannya terhadap peradilan yang melibatkan anggota keluarganya. "Tidak mau mengintervensi dan tidak mau diintervensi siapa pun, itu intinya," ungkapnya untuk menepis ketakutan warga akan matinya keadilan.

Sorotan publik yang paling tajam mengarah pada hubungan kekerabatannya dengan orang nomor dua di republik ini yang dianggap sarat konflik kepentingan. Menanggapi sinisme tersebut, ia dengan tenang membantah keras adanya pertemuan khusus sebelum melangkah masuk ke lingkaran istana.

Bagi sang purnawirawan hakim, kedekatan pertalian darah tidak bisa disamakan dengan kesepakatan politik dalam mengurus negara. "Tidak ada komunikasi, saya jarang bertemu karena saya sendiri tidak mau, dan saya itu bukan orang politik," ucapnya mengakhiri polemik. (*)